top of page

Taufik Prawoto dan Periode-periode Pentingnya dalam Proses Penciptaan Karya



“Saya akan menggeluti seni sampai akhir hayat, karena itu adalah rahmat Tuhan yang diberikan sejak saya lahir. Seni adalah bagian hidup saya.”
- Taufik Prawoto

Di tengah pandemi yang melanda di Indonesia, Taufik Prawoto, seorang seniman yang berdomisili di Jakarta dengan antusias tetap menghelat pameran tunggalnya di daerah Ancol, Jakarta. Meskipun dalam visinya diharapkan pameran ini dapat mendatangkan banyak kolektor baru di kawasan Jakarta, alih-alih kegiatan open studio yang dihelat Taufik harus tertunda akibat darurat wilayah yang digaungkan pemerintah pusat untuk menanggulangi penyebaran virus Covid-19.


Kegiatan open studio ini merupakan bentuk kerjasama antara sang seniman kelahiran Pati, Jawa Tengah tersebut dengan L Project dalam satu rangkaian acara yang dinamakan Indonesia Art Expo 2021. Tidak hanya Taufik yang harus menghentikan sementara kegiatannya, sebagian partisipan lain yang berdomisili di Jawa-Bali pun harus memutar kemudi mereka untuk kembali berjualan secara online ketimbang fisik.


Meskipun begitu, kami berhasil mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Taufik Prawoto, meskipun kunjungan kali ini hanya bisa dilakukan secara online. Taufik memulai karir sebagai seniman dengan modal ilmu otodidak yang didapatkan dari bertukar pikiran dengan seniman-seniman asal Bandung. Kecintaannya pada dunia seni membawa pria kelahiran 1965 ini mengambil pekerjaan di bidang periklanan tepatnya sebagai seorang desainer poster untuk film. Langkah tersebut juga mengawali karir impiannya sebagai pelukis dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan pameran seni rupa yang dimulai sejak 1984.


Semangat dalam bidang seni rupa Taufik tumbuh melalui ketertarikannya dalam membaca biografi berbagai maestro dalam negeri seperti Affandi, S.Sudjojono, dan Indra Gunawan. Taufik pun juga menaruh perhatian khusus di awal-awal masa berkaryanya pada era impressionism yang sedikit-kurang memberikan pengaruh kepada gaya melukisnya.


“Saya juga tertarik pada seniman-seniman di era impressionist seperti Monet, Degas, Van Gogh, Renoir, begitu. Namun ketertarikan saya bukan cuman keharusan untuk seperti mereka, namun hanya tertarik sebagai barometer perjalanan kesenian saya begitu.”

Dalam pengabdiannya pada dunia seni rupa, Taufik Prawoto menjelaskan perkembangan keseniannya yang dapat dibagi ke dalam tiga periode yang dimulai dalam era impressionism yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa banyak seniman-seniman besar yang dijadikan barometer berkesenian Taufik. Dilanjutkan pada periode realism yang akhirnya berkembang menjadi periode “terhimpit” yang dimulai sejak 2012-2013 akibat pengaruh kehidupan sang seniman yang berdomisili di Jakarta. Periode ini mengisahkan pandangan Taufik dalam melihat fenomena kehidupan di Jakarta yang banyak digambarkan dengan objek-objek yang terfokus kepada human interest yang merupakan sebuah istilah di mana objek tersebut dapat membangkitkan rasa empati bagi para penikmatnya.


Perubahan periode dalam lukisan seorang Taufik Prawoto dapat dilihat dari karya-karya terbarunya yang terdapat di L Project, di mana karya-karya tersebut dibuat pada kurun waktu 2017-2021. Taufik mengambil tema-tema yang banyak bermain dalam isu sosial serta fenomena yang umum terjadi di masyarakat. Sisi human interest yang ingin ditonjolkan oleh sang seniman yang juga aktif dalam Komunitas Pasar Seni Ancol ini begitu terasa dalam proses penciptaan karyanya dalam lima (5) tahun terakhir.



Seperti pada karya “The Thinker” yang menggambarkan proses kontemplasi sang seniman yang menghabiskan masa karantina mandirinya dengan merenungkan berbagai macam hal. Di masa pandemi, setiap orang kerap mencari kegiatan baru yang bisa dilakukan rumah. Sebagian ada yang belajar memasak, ada yang hobi memelihara tanaman, dan ada yang jauh tenggelam ke dalam pikirannya.


Dalam pose yang serupa dengan karya perupa Perancis, Auguste Rodin, Taufik merefleksikan berbagai permasalahan yang kerap muncul di pikirannya atas kesulitan-kesulitan yang kerap muncul di masa penuh keterbatasan ini.


“Saya tertarik akan anatomi dan bentuk (dari patung karya Auguste Rodin) dan saya mencoba menarik benang merah terhadap situasi pandemi ini. Di situ saya berpikir, saya berpikir keras seperti bagaimana mencari nafkah untuk anak istri, berfikir untuk mengembangkan karya seni saya ke depan. Dalam berfikir itu kok sekarang berhadapan dengan kesusahan, kesulitan, maka itu timbullah karya The Thinker itu.”

Selain “The Thinker” tema pandemi juga terlihat pada lukisan berjudul “Pahlawan Covid” yang memvisualkan para pejuang garda depan penanganan pandemi ini dalam bentuk superhero yang banyak menjadi inspirasi masyarakat. Tidak juga beberapa elemen pandemi ia sisipkan seperti tanaman dan ikan cupang yang kerap menjadi hobi baru masyarakat yang menjalani karantina Kesehatan.


Pandemi juga membuat seniman yang memiliki studio di daerah Ancol, Jakarta Utara ini kembali ke daerah asalnya yang berada di Pati, Jawa Tengah. Dalam masa kontemplasinya di kampung halaman, dua buah lukisan pun berhasil ditelurkan di tahun 2021 yang berjudul “Peradaban yang Hilang” dan “Menciptakan Peradaban”.


Tema kampung halaman menjadi poin utama dalam kedua karya ini, di mana pada judul “Peradaban yang Hilang” seniman mencoba memvisualisasikan cerita masyarakat setempat dengan pendekatan sejarah.


Dikatakan bahwa daerahnya (Pati, Jawa Tengah) dulu merupakan sebuah laut lepas pada jutaan tahun yang lalu. Fakta tersebut dibuktikan melalui ditemukannya berbagai fosil-fosil biota laut yang ditemukan di tempat-tempat yang tinggi yang jauh dari lokasi laut. Sedangkan dalam lukisan “Menciptakan Peradaban” sang seniman mencoba melakukan kritik sosial terhadap isu perusakan lingkungan yang dilakukan oleh baik korporasi dan masyarakat setempat terhadap desa-desa di kampung halamannya.


“Di situ saya observasi daerah saya, mengamati, mempelajari daerah saya, mengamati gunung, yang di mana di situ gunung dibongkar oleh masyarakat setempat, di mana itu kan perusakan lingkungan.”



Taufik menambahkan “Itu kan dulunya (objek di dalam gambar) ada perkampungan, namun karena ada pengembangan oleh perusahaan jadinya ya merusak lingkungan. Itu saya makanya menggambar pohon, dan binatang dalam bentuk sketch, karena itu kisah lama. Sekarang sudah enggak ada itu.”



Dalam proses menemukan inspirasi karya, Taufik tidak hanya mengambil isu-isu nasional saja. Salah satu lukisannya yang juga bisa dilihat dalam website L Project juga mengangkat isu rasial yang terjadi oleh orang keturunan Asia di negara-negara adidaya. Simpati yang terbangun karena sesama keturunan Asia, maka karya “Fight Me Instead” pun lahir dan merupakan sebuah bentuk solidaritas Taufik dalam membela mereka yang mengalami diskriminasi ras.



Periode-periode karya Taufik yang selama ini ia jalani menurut dia akan terus berubah-ubah selama ia masih mampu berkarya. Ia pun tidak pernah membatasi diri untuk menciptakan karya yang mengangkat isu sosial atau kritik terhadap suatu fenomena. “Inspirasi datang dari mana saja, di mana ide itu muncul, disitulah saya akan berkarya.” begitulah kira-kira kata yang dia lontarkan untuk menekankan pertanyaan “Apakah harus ada tema khusus dalam berkarya?”.


Dirinya pun tidak pernah membatasi terhadap perkembangan seni yang terjadi dan setiap periode karyanya merupakan bentuk eksperimennya dalam berekspresi. Taufik berkata bahwa dia tidak akan terbatas dalam objek, tema, atau aliran seni tertentu karena itu merupakan bentuk pemenjaraan ide dan kreativitas. Dalam perjalanan berkeseniannya, ia menghindari untuk menjadi seniman yang terbatas oleh ide-ide atau tema-tema tertentu, yang dibuktikan dari beragamnya gaya yang terus berubah dan berkembang secara dinamis dari masa ke masa.


Kata Kunci: Taufik Prawoto, Indonesia Art Expo 2021, IAE 2021, L Project, Profil, Seniman


Comments


bottom of page