top of page

[L-PROJECT] MENGAPA KARYA SENI BISA MAHAL? – MENDALAMI FAKTOR PENENTUAN HARGA SEBUAH KARYA SENI.


Sebuah meme animasi kucing yang terbang di angkasa sembari meninggalkan jejak pelangi bernama Nyan Cat telah terjual sebesar $590,000 di lelang digital pada 19 Februari 2021 lalu. Animasi ini sendiri sebelumnya sudah hadir sejak 2011 dan merupakan karya seniman Chris Torres, hingga akhirnya dibeli oleh pembeli anonim di balai lelang digital.


Mungkin dari kalian banyak berpikir bahwa artikel ini akan membahas mengenai cryptocurrency yang terjadi di balik jual-beli lelang tersebut. Tidak! Pembahasan kali ini tidak berbicara mengenai hal tersebut. NFT atau Non-Fungible Token atau sederhananya adalah aset yang tidak dapat ditukar memang bahasan yang menarik dalam pasar seni digital akhir-akhir ini. Sistem pembelian dengan mata uang digital pun kian marak dan berhasil menjual beragam karya seni digital dengan harga lebih dari $10,000.


Tidak hanya terjadi di pasar cryptocurrency, Salvator Mundi, sebuah karya seni ciptaan Leonardo Da Vinci berhasil terjual di sebuah pelelangan oleh balai lelang Christie’s pada 2017 dengan harga $450.3 juta yang menjadikan lukisan tersebut sebagai lukisan termahal yang terjual dalam sejarah lelang dunia.


Yang menjadi pertanyaan adalah, dari mana harga tersebut muncul?

Karya seni kerap menimbulkan pertanyaa n bagi orang awam, seperti mengapa lukisan bisa mahal? Apa faktornya? Apakah lukisan di rumah saya bisa semahal itu? Apa yang mempengaruhi harga lukisan? Bagaimana mungkin sebuah karya seni di dalam dunia maya laku miliaran atau bagaimana mungkin lukisan seseorang bisa terjual lebih dari satu miliar US Dollar di balai lelang?


Penentuan harga karya seni mungkin tidak bisa disamakan dengan penentuan harga emas, saham, barang-barang grosir yang banyak ditemukan di pasar-pasar dunia. Meskipun begitu, untuk menentukan nilai sebuah karya memang bisa didasarkan atas kesepakatan kolektif antar operator seni (kurator, galeri, balai lelang, dsb) dengan mempertimbangkan berbagai faktor.


Nilai historis dan nama pembuat karya tentu menjadi faktor pemicu tingginya harga sebuah karya seni, namun bukan berarti semakin tua usia karya seni semakin mahal pula harga tersebut. Bila dibandingkan dengan karya-karya seniman ternama yang berusia ratusan tahun, maka Nyan Cat bukanlah apa-apa mengingat usia karya digital tersebut masih kurang dari 10 tahun. Begitu pula dengan lukisan Leonardo Da Vinci yang seharusnya tidak lebih mahal dari karya seniman lain yang mungkin sudah berkiprah dari awal abad ke-10.


Michael Findlay dalam buku “The Value of Art” (2014) mengatakan bahwa ada lima indikator yang bisa digunakan untuk menentukan harga sebuah seni. Indikator tersebut antara lain adalah ;


· Asal-usul

· Kondisi

· Keaslian

· Sebaran / Exposure

· Kualitas


Asal-usul (Provenance)

Sebuah karya seni yang telah berpindah tangan ke pihak kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya akan memiliki nilai tambah tersendiri di dalam karya tersebut. Sejarah kepemilikan bisa berpengaruh terhadap harga apabila karya tersebut pernah dimiliki oleh figur, instansi, atau galeri ternama. Catatan kepemilikan ini akan terus menempel kepada karya tersebut dan bisa diketahui siapa saja tangan yang pernah memilikinya, semakin berpengaruh nama pemilik sebelumnya, maka besar kemungkinan harga karya tersebut akan melambung naik.


Kondisi barang tentu bisa mengubah nilai dari suatu barang itu sendiri. Findlay menjabarkan bahwa perbedaan kondisi barang antara “baik” dan “sempurna” dalam kolom rating bisa mempengaruhi hingga 15 sampai 20 persen terhadap harga karya seni itu sendiri. Karya seni yang diberi label “buruk” bahkan bisa jatuh harganya menjadi 40 persen dibandingkan harga normal.


Keaslian

Lukisan-lukisan atau karya ternama tentu memiliki banyak cetakan palsu yang terkadang suka diklaim oleh orang-orang tertentu menggunakan alasan klasik yang banyak ditemui art dealer seperti “Kakek buyutku kenal dengan pelukis Picasso, dia memberikannya langsung lukisan ini.” Bila tidak jeli maka orang tersebut bisa kaya mendadak bak kejatuhan durian runtuh. Lukisan tanpa nama biasanya berakhir sebagai pajangan dekoratif dan tidak sedikit orang yang tidak peduli apakah ini asli atau tidak yang penting mereka suka dengan gambarnya. Namun, cerita akan berbeda dengan harga sebuah lukisan yang dibubuhkan tanda tangan pelukis asli yang didukung oleh faktor-faktor keaslian lainnya yang biasa ditelaah oleh spesialis.


Exposure

Karya seni mahal tidak harus merupakan karya seni dari ratusan tahun yang lalu. Sebuah karya yang diciptakan oleh seniman baru juga bisa mendapatkan harga yang fantastis di balai lelang. Tentu semua itu berkat jasa galeri atau instansi yang turut membantu sang seniman untuk mendapatkan exposure. Semakin dia dikenal, semakin banyak pameran yang dijalankan, semakin banyak negara yang dikunjungi, dan semakin banyak orang yang tahu tentang dirinya, maka semakin meningkat pula harga karya yang diciptakannya. Di era digital ini, media sosial juga bisa menjadi wadah untuk membantu seniman melebarkan sayapnya melalui pameran virtual yang akan berdampak kepada nilai terhadap dirinya dan juga karyanya.


Kualitas

Galeri dan art dealer punya cara untuk menentukan kualitas dari sebuah karya seni yang mereka lihat. Bagus atau tidak merupakan hal yang relatif karena tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama persis terhadap satu lukisan. Pendekatan objektif dan akademis tentu diperlukan sehingga mayoritas operator seni bisa sepakat untuk menentukan kualitas dari sebuah karya.


Setiap balai lelang, galeri, perseorangan, dan juga instansi juga memiliki cara sendiri untuk menentukan harga sebuah karya seni. Anda pun juga akan menemukan banyak metode lain di luar sana dan penjelasan mereka terkait harga yang mereka patok terhadap suatu karya.


Mikke Susanto, seorang dosen di Universitas Gadjah Mada, Indonesia dalam buku “Mengapa Sih Lukisan Mahal?” merangkum beberapa teori yang menentukan harga sebuah seni. Dari keempat versi yang dia kumpulkan terkait indikator harga seni, Mikke menyimpulkan bahwa harga seni ditentukan akan tiga faktor yaitu - personal ( kepemilikan, tanda tangan asli, seniman, reputasi perupa, riwayat akuisisi, dan riwayat karya), - produk (kondisi, kualitasi, keaslian, subjek, ukuran, teknik, ide dan tema, media, dan gaya/aliran), dan lingkungan ( sebaran citra, ruang penjualan, reproduksi, permintaan, pengaruh perantara, dan publikasi).

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page